Jumat, 14 Juni 2019

Puisi perpisahan berujung ceria

No time for the loser













Delapan Belas

Aku haya inginkan sepatah kata
Dari dia yang duduk sebangku denganku
Aku hanya harapkan seuntai janji
Padamu, yang dipertemukan untuk pergi
Aku hanya kopi hitam dengan air hangat
Karena kalian hadir membuat segalanya manis

Kamu marah..
Karena kugores sedikit luka dihatimu
Aku bahagia..
Karena kamu, memberi sweater manis itu saat basah kuyup ujan menertawakanku
Kita lemah..
Bak sapu lidi yang tak bisa menyapu sendiri
Menyapu kerinduan
Menyapu emosi
Menyapu iri
Dan tanpa kita sadar
Kamu dan aku tak mampu menjadi lidinya
Hanya sebatas tong sampah
Yang menerima segala kenyataan baik buruknya

Kita seperti kimia unsur yang disatukan menjadi molekul
Yang kadang seperti phitagoras yg bikin emosi
Dan kamu ibarat gravitasi yang tetap membuat kaki tertapak menuju mimpi
Mimpi yang indah seperti jantung yg bekerja keras demi bergeraknya jari kelingking

Yasudahlahh..
Itu kata bondan
Tapi kata kita
Ya ok kita kan bertemu sepuluh tahun lg dengan cinta digenggaman
Atau mungkin buah rahim yang sudah kalian tanam
Meski yang di genggam bukan orang yg sama kala duduk dekat matahari
Dan mengerjakan soal matematia

Ahahaha :(
Bahagia rasanya
Mengingat kita hanya kupu-kupu yg baru belajar terbang
Ada yang ingin lebih tinggi
Ada juga yg melipat sayapnya kaya strauberi
Eh gimana sih nulisnya?
Set
Rau
Ber
Lah udahlah
Liat kalian pake kebaya satu warna dan jas item yg bikin berwibawa
Aneh sih..
Loe nyari berhari2 cuma buat 7 jam aj
7 jam yg berati mungkin
Trs jadi kepikiran pen buat novel tiga tahun dalam 7 jam hemmm great!!



Puisi Remaja Masakini

cukup kata saja sebagai kiasan.. wanita jangan











"Jangan kenal Cinta"

Aku dan sekolah menengahku
Dia dan alasan mengapa berada disana
Kagum hanya karena belum mengenalnya
Entah, karena jujur saja belum pernah bicara padanya

Jemari menulis sepatah kata
Saat diari kecil kubuka kembali 
Yang seja lama belum kutau kan diisi apa
Pah, mah sudah siapkah aku mengenalnya

Mungkin ia hanya setitik embun diantara rerimbunan
Tapi entah mengapa lebih tertarik melihatnya
Dia seperti melambai tangan padahal hanya berjalan lewat saja

Mey...
Halu kamu...
Ia bahkan g menoleh sedikitpun
Jangankan untuk menyatakan apa yg dirasa
Mendengar nafasnya saja tak bisa

Bunga itu cuma mekar kala ia bersemi
Dan senja terlihat indah kala matahari tak hanya lewat saja
Sedangkan ia hanya cuma sekedar menyapa apabila mey pernah duduk disampinya